Senin, 14 Desember 2015

DAMPAK RADIASI PONSEL BAGI KESEHATAN MANUSIA

DAMPAK RADIASI PONSEL BAGI KESEHATAN MANUSIA


Ponsel merupakan perlengkapan elektronik yang selalu menemani kita kemanapun kita pergi. Tahukah anda, efek samping dari sinyal ponsel anda? Berbagai macam tips sudah kita ketahui bersama seperti gunakanlah handphone pada kuping sebelah kiri ketimbang sebelah kanan dan lainnya.

Energi Radiasi dari Ponsel

Pancaran gelombang elektromagnetik dari ponsel memiliki frekuensi antara 450 – 1800 MHz, yaitu termasuk dalam daerah gelombang mikro. menurut perhitungan menunjukkan bahwa quantum energi yang ditimbulkan oleh radiasi elektromagnetik ponsel, secara kuantitas relatif masih kecil karena hanya berkisar sepersejuta elektron Volt. Namun kalau jarak sumber radiasi dengan materi, yaitu jarak antara ponsel dengan kepala (khususnya telinga) diperhitungkan, maka dampak radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh ponsel tidak boleh diabaikan begitu saja. Alasannya adalah karena intensitas radiasi elektromagnetik yang diterima oleh materi (kepala khusus bagian telinga), akan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak, artinya makin dekat dengan sumber radiasi (ponsel) akan makin besar radiasi yang diterima. Persoalan akan lebih menarik lagi, kalau waktu kontak atau waktu berbicara melalui ponsel diperhitungkan, maka akumulasi dampak radiasi akibat pemakaian ponsel perlu dicermati lebih jauh lagi.



Dampak Radiasi Ponsel pada Kesehatan

Ponsel menggunakan gelombang elektromagnetik dalam mengirim dan menerima pesan. Gelombang elektromagnetik ini dapat menyebabkan pemanasan pada jaringan tubuh. Jaringan tubuh dipanaskan oleh rotasi dari molekul polar yang disebabkan oleh medan elektromagnetik. Pada saat seseorang sedang menelepon dengan ponsel, efek pemanasan ini akan terjadi pada permukaan kepala dan mengakibatkan kenaikan suhu. Otak memiliki kemampuan untuk membuang kelebihan panas melalui sirkulasi darah. Namun, kornea mata tidak memiliki pengaturan suhu dan dari percobaan pada kelinci, ditemukan bahwa radiasi ponsel dapat menyebabkan katarak.

Pengamatan lebih jauh mengenai dampak radiasi elektromagnetik ponsel terhadap tubuh manusia, ternyata mempunyai kemiripan dengan dampak radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh radar. Dampak tersebut adalah kemampuan radar mengagitasi molekul air yang ada dalam tubuh manusia. Sel-sel yang terdapat dalam tubuh manusia sebagian besar mengandung air. Agitasi ditimbulkan oleh radiasi elektromagnetik. Kalau intensitas radiasi elektromagnetiknya cukup kuat, maka molekul-molekul air terionisasi, dampak yang ditimbulkan mirip dengan akibat yang ditimbulkan oleh radiasi nuklir. Peristiwa agitasi oleh gelombang mikro yang perlu diperhatikan adalah yang berdaya antara : 4 mW/cm2 ~ 30 mW/cm2. Agitasi bisa menaikkan suhu molekul air yang ada di dalam sel-sel tubuh manusia dan ini dapat berpengaruh terhadap kerja susunan syaraf, kerja kelenjar dan hormon serta berpengaruh terhadap psikologis manusia. Hal-hal inilah yang kemungkinan diduga sebagai penyebab timbulnya penyakit Alzheimer atau kepikunan dini.
Penelitian ini dilakukan oleh 12 lembaga reset, 7 diantaranya ada di Eropa selama 4 tahun. 1996, Universitas of Washington, Seattle menemukan bahwa EMR dalam bentuk energi gelombang radio rendah terbukt bisa merusak DNA. Kelompok risetb Jerman, Verum mencoba mempelajari efek radiai HP terhadap sel-sel tubuh manusia. Hasilnya sel-sel tubuh yang terkena paparan gelombang elektromagnetik seperti pada HP mengalami kerusakan yang signifikan. Bahkan mutasi sel-sel ini bias menjadi penyebab timbulnya kanker. Pancaran radiasi yang digunakan dalam penelitian berada pada level 0,3-2 watt/kg, sementara pada HP memancarkan sinyal radio atau SAR (Spesifik Absortion Rate) yang berada pada level 2 watt/kg. Beberapa akibat buruk yang biasa terjadi pada tubuh manusia menurut sejumlah penelitian antara lain meningkatkan resiko terkena tumor telinga , kanker otak, berpengaruh buruk pada jaringan otak, mengakibatkan meningioma, neurioma akustik, acoustic melanoma dan kanker ludah.
Sebenarnya semua handphone yang beredar masih bias dkategorikan “aman” karena tingkat SAR-nya masih dibawah 1,6 watt/kg. Meskipun demikian ada beberapa orang yang merasa agak pusing atau telinganya panas setelah menggunakan handphone-handphone yang dikategorikan “aman” tersebut. Jadi yang betul-betul aman (bukan sekedar aman saja) adalah tingkat radasinya dibawah 1 watt/kg. Maka dari itu untuk memisahkan yang “aman” dan yang “betul-betul aman”, dibuatlah tabel dibawah ini. Untuk lebih jelasnya lihat pengaruh posisi antenna terhadap resiko kanker otak.
Beberapa institusi juga menyatakan bahwa radiasi dari penggunan HP tidak berbahaya. Dan memang radiasi HP tersebut, yang tergolong gelombang RF, tidak cukup berbahaya. Tapi bukan berarti kemungkinan adanya efek samping tidak ada. Radiasi RF pada level tinggi dapat merusak jaringan tubuh. Radiasi RF punya kemampuan untuk memanaskan jaringan tubuh seperti oven microwave memanaskan makanan. Dan radiasi tersebut dapat merusak jaringan tubuh, karena tubuh kita tidak diperlengkapi untuk mengantisipasi sejumlah panas berlebih akibat radiasi RF. Penelitian lain menunjukkan radiasi non-ionisasi (termasuk gelombang RF) menimbulkan efek jangka panjang.
Sungguh tragis mendapati bahwa handphone (HP) yang setiap hari kita pakai ternyata memiliki radiasi yang cukup mematikan dalam jangka panjang kita tidak berhati-hati menggunakannya. Yang juga mengejutkan adalah radiasi HP ternyata juga bias dipakai untuk mematangkan sebutir telur seperti microwave.
Untuk membuktikannya, dibutuhkan:
  • 1 butir telur dan 2 HP. Telur diletakkan di tengah-tengah kedua HP.
  • 65 menit percakapan ke 2 HP tersebut.
  • Buktikan!!! Telur tersebut telah matang dan siap dimakan. Otak kita jg akan menjadi matang bila terus menerus ditempelkan pada HP. Otak dan telur sama-sama mengandung jumlah air dan protein.
  • Mulailah panggilan antara kedua HP selama kurang lebih 65 menit
  • 15 menit tidak terjadi apa-apa
  • Setelah 25 menit telur mulai hangat, setelah 45 menit, buktikan sendiri!

Pada HP terdapat istilah transmitter yang mengubah suara menjadi gelombang sinusoidal kontinu yang kemudian dipancarkan keluar melalui antenna dan gelombang ini berfluktuasi melalui udara. Gelombang RF(radio frequency) inilah yang menimbulkan radiasi elektromagnetik.
Berikut beberapa penyakit dan kelainan yang berpotensi timbul karena radiasi HP:
  1. Kanker
  2. Tumor otak
  3. Alzheimer
  4. Parkinson
  5. Fatigue (terlalu capai)
  6. Sakit kepala
Penelitian yang berbeda menghasilkan hasil yang berbeda. Ada yang menyatakan radiasi HP lebih banyak menyebabkan kanker dan kelainan. Ada yang menyatakan bahwa radiasi HP tidak berhubungan dengan kanker. Terlepas dari mana yang benar atau salah tentu kita sebaiknya perlu untuk bersikap waspada dan mengantisipasi.
Beberapa pengguna ponsel telah melaporkan bahwa mereka merasakan berbagai gejala saat menggunakan atau setelah penggunaan ponsel, yaitu panas dan kesemutan pada kulit kepala, kelelahan, gangguan tidur, pusing, sakit kepala, malaise, dan takikardiak(jantung berdebar-debar). Laporan ini sedang diteliti penyebabnya, apakah benar karena radiasi ponsel atau karena stres.
Berbagai percobaan telah dilakukan oleh para ahli untuk mengatahui pengaruh radiasi ponsel bagi kesehatan. Pada penggunaan jangka pendek, radiasi ponsel memang tidak menyebabkan penyakit yang berarti. Tetapi pada penggunaan jangka panjang, radiasi ponsel dapat memicu penyakit acoustic neuroma (sejenis tumor otak). Dr. Lennart Hardell, seorang peneliti Swedia, mengemukakan bahwa penggunaan ponsel selama satu jam per hari dalam kurun waktu sepuluh tahun dapat meningkatkan resiko terkena tumor otak.

Penelitian mengenai pengaruh gelombang mikro terhadap tubuh manusia menyatakan bahwa untuk daya sampai dengan 10 mW/cm2masih termasuk dalam nilai ambang batas aman. Nilai ambang batas aman sebesar 10 mW/cm2 ini berlaku di Amerika, sedangkan untuk negara-negara lain belum dicapai kata sepakat berapa sebenarnya nilai ambang batas aman tersebut. Sebagai contoh, Rusia menetapkan nilai ambang batas aman adalah 0,01 mW/cm2, jauh lebih kecil (1/1000 nya) nilai ambang batas aman yang ditetapkan oleh Amerika. Jadi mengenai penetapan nilai ambang batas aman masih perlu diteliti lebih jauh lagi, demi keselamatan pemakai gelombang mikro termasuk pula terhadap pemakaian ponsel.



HP Lebih Merusak Pada Otak Anak-anak


Jauhkan HP dari anak-anak karena otak mereka yang masih muda sangat sensitif terhadap radiasi HP jika terkena cukup lama. Terlebih lagi bayi jauh lebih sensitif lagi bahkan beberapa tidak bisa menahannya.
Departemen kesehatan masyarakat Toronto telah menasehatkan para remaja dan anak-anak kecil untuk membatasi penggunaan telpon selular mereka, dalam rangka menghindari resiko kesehatan yang cukup potensial. Ini merupakan kebijakan yang pertama di Kanada.
Para pejabat sudah memperingatkan bahwa oleh karena adanya efek samping dari radiasi frekwensi radio, anak-anak di bawah umur delapan tahun seharusnya menggunakan telepon selular hanya dalam keadaan darurat, dan para remaja perlu membatasi panggilan untuk kurang dari 10 menit.
Selama bertahun-tahun, kebanyakan para pejabat kesehatan pemerintah kurang peduli terhadap segala resiko yang ada. Tetapi dengan adanya beberapa penelitian, suatu pola mulai terlihat bahwa orang-orang yang menggunakan telepon selular mereka untuk suatu periode waktu yang lama berada pada resiko lebih besar terhadap kemungkinan terkena tumor otak tertentu.

Beresiko Melahirkan Anak Hiperaktif

Wanita yang menggunakan HP ketika hamil memiliki kecenderungan bakal melahirkan anak-anak dengan masalah tingkah laku, berdasarkan suatu studi terhadap lebih dari 13.000 anak-anak.
Wanita hamil yang memakai HP yang meskipun hanya 2 atau 3 kali dalam sehari, cukup untuk menimbulkan resiko bayi mereka terkena penyakit hiperaktif dan bisa mengalami kesulitan dalam pemahaman/proses belajar, emosi dan sosialisasi anak pada saat sekolah.
Hasil di atas justru lebih beresiko lagi apabila sang anak sendiri juga menggunakan HP sebelum berusia 7 tahun.

 Tips Mengurangi / Menghindari Radiasi Ponsel

Disamping itu, secara ringkas ada beberapa tips yang perlu Anda perhatikan untuk mengurangi atau terhindar dari bahaya radiasi elektromagnet:
  • Jangan memakai HP ketika hamil dan jangan ijinkan anak Anda memakainya.
  • Batasi lama penggunaan HP Anda atau penggunaan telepon tanpa kabel lainnya.
  • Gunakan headset dengan kabel untuk mengurangi efek radiasi HP karena menjauhkan HP dari kepala Anda. Hindarilah penggunaan bluetooth.
  • Kurangi diri Anda terkena paparan langsung dari area transmisi WiFi (Hotspot Area). Cari tahu dimana lokasi WiFi dan usahakan untuk menjauh darinya.
  • Jika Anda memiliki telepon kabel, jangan memakai yang melebihi 900 MHz, karena telepon kabel Gigaherts akan terus menerus memancarkan gelombang radio tinggi 24/7.
  • Gunakan speakerphone daripada langsung mendekatkan HP ke telinga Anda. Ini membantu untuk menjauhkan efek radiasi langsung antara otak dengan HP.
  • Batasi penggunaan HP di dalam gedung karena HP akan memancarkan lebih banyak gelombang di dalam gedung dibandingkan di luar.
  • Pakai HP pada saat bar transmisi atau penerimaan signal baik. Ketika transmisi jelek, HP Anda akan bekerja lebih keras untuk menangkap transmisi dengan jelas.
  • Berhati-hatilah dalam meletakkan HP Anda, karena radiasi berefek didekat ia memancar.

BAHAYA PEMAKAIAN HEADSET BAGI TELINGA DAN OTAK

BAHAYA PEMAKAIAN HEADSET BAGI TELINGA DAN OTAK


Kebiasaan mendengarkan portable music player (PMP), seperti MP3 player, bisa membuat telinga cedera. Itu terjadi jika kita terlalu sering memakai earphone atau headphone bervolume tinggi. Berdasar penelitian, efek buruk datang jika menggunakan earphone selama lima jam dalam seminggu. Dampaknya adalah kerusakan permanen pada telinga, kemungkinan terbesar hal itu terjadi pada usia muda.
Saat ini mungkin dampaknya belum terlihat, namun kelak akan terasa. Mendengarkan pemutar musik personal secara reguler dalam volume tinggi ketika muda sering kali tidak berdampak pada pendengaran. Namun, kelak kemampuan mendengar bisa menghilang, jelas salah seorang peneliti pada International Herald Tribune.
Pernyataan itu diberikan sembilan peneliti dari Committee on Emerging and Newly Identified Helat Risks. Bahkan, mereka juga menyatakan bahwa risiko kehilangan pendengaran akan didapatkan di pertengahan usia 20-an. Bagaimanapun, mendengarkan musik melalui media portabel juga menimbulkan dampak lain. Musik bisa mengisolasi pendengarnya dari khalayak ramai. Ketika mengemudi, musik dapat meningkatkan risiko hilangnya pendengaran terhadap situasi sekitar.Penyebab gangguan pendengaran memang beragam.
Bergantung juga pada usia seseorang. Suara terbagi atas beberapa tingkat. Suara ringan untuk dewasa berada antara 25 hingga 40 dB, sedangkan untuk anak-anak 20 sampai 40 dB. Bertingkat semakin tinggi hingga suara terberat berkualitas 90 dB atau lebih yang masih dapat didengar manusia.
Gelombang elektromagnetik berpengaruh terhadap listrik otak, namun menjadi pertanyaan seberapa besar pengaruh gelombang tersebut terhadap kerusakan otak? sampai saat ini belum ada satupun bukti medis yang kuat untuk membuktikan itu. Meskipun gelombang elektromagnetik berpengaruh terhadap otak tikus, namun tidak terbukti pada otak manusia Sampai saat ini beberapa penelitian di Eropa pada gelombang elektromagnetik terhadap tumor otak tidak dapat membuktikan efek tersebut.Mengenai pengaruh terhadap telinga, paparan musik dengan earphone dapat mempengaruhi ambang pendengaran , terutama bila dilakukan dengan volume keras dan jangka waktu lama.
Beberapa cara untuk mengurangi kerusakan pendengaran adalah dengan mengurangi volume suara dan mengurangi waktu untuk mendengarkan dengan earphone. Namun seringkali juga orang-orang menggunakan earphone pada tempat-tempat yang ramai seperti stasiun kereta, terminal bus ,dsb, jadinya tanpa sadar cenderung untuk meningkatkan volume earphone lebih keras lagi.
Beberapa saran untuk mengurangi efek samping misalnya menggunakan headphone yang besar (tipe yang lama), sehingga suara lebih terdistribusi dan lebih menutup suara bising dari luar dibandingkan earphone yang kecil. Tipe earbuds yang kecil mempunyai speaker kecil dengan volume besar yang diletakan di lubang telinga sudah pasti memberikan efek lebih besar pada pendengaran dibandingkan dengan headphone yang hanya ditempel pada telinga luar.
Berikut efek negatif headset atau earphone untuk kesehatan tubuh :
1.Kerusakan permanen pada telinga
Hal ini terjadi bila telinga sudah tidak kuat lagi menanggung beban suara keras dari earphone yang langsung terhubung dengan lubang telinga, biasanya, hal ini terjadi pada mereka yang masih berusia muda atau remaja.
2.Kehilangan pendengaran di usia 20-an
Berdasarkan penelitian, efek penggunaan earphone atau headset yang berlebih ini memang tidak akan langsung terasa. Kerusakan akibat penggunaan headset atau earphone yang berlebihan ini akan muncul secara perlahan, biasanya efek akan mulai terasa di usia 20-an. Di usia itu, si penderita akan mulai kehilangan pendengarannya.
3.Kerusakan otak
Gelombang elektromagnetik akibat earphone atau headset ini diduga berpengaruh terhadap listrik otak. Terbukti gelombang elektromagnetig ini berpengaruh pada listrik otak pada tikus. Namun, hingga saat ini belum diketahui seberapa besar efek dari gelombang elektromagnetik itu pada otak manusia. Tapi yang jelas kamu harus tetap waspada.
4.Ambang pendengaran
Paparan musik dengan earphone atau headset dapat mempengaruhi ambang pendengaran manusia, terutama bila dilakukan dengan volume keras dan dalam jangka waktu lama. Secara perlahan efek ini akan mengarah pada gangguan pendengaran secara permanen.
Karenanya kamu harus menggunakan earphone atau headset ini sesuai kebutuhan saja, jangan berlebih. Mengenai tingkat suara, suara tingkat ringan untuk dewasa berada antara 25 hingga 40 desibel, sedangkan anak-anak 20 hingga 40 desibel. Bertingkat semakin tinggi hingga suara terberat berkualitas 90 desibel atau lebih yang masih dapat didengar.
Sejumlah peneliti menganjurkan semua perangkat suara yang menggunakan headset atau earphone untuk tidak melebihi batas 100 desibel. Mengingat suara yang ada di luar headset (suara mesin mobil, disel atau pemotong rumput) juga bisa berpengaruh pada pendengaran manusia.

KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN

RSS

KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN (Konsep Dasar, Peserta Didik, Pendidik, Tujuan, dan Bahan/Materi)

  1. BAB II
    PEMBAHASAN
  2. A.    Konsep Dasar Komponen-Komponen Pembelajaran
Pengajaran adalah suatu sistem artinya keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang berinteraksi antara satu dengan yang lainnya secara keseluruhan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Jadi, komponen pendidikan adalah bagian-bagian dari sistem proses pendidikan yang menentukan berhasil atau tidaknya proses pendidikan (Slameto, 2010).
Adapun komponen-komponen tersebut meliputi:
  1. Tujuan pendidikan
  2. Peserta didik
  3. Pendidik
  4. Bahan atau materi pelajaran
  5. Pendekatan dan metode
  6. Media atau alat
  7. Sumber belajar
  8. Evaluasi
Semua komponen dalam sistem pengajaran saling berhubungan dan saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pengajaran. Pada dasarnya, proses pengajaran dapat terselenggara secara lancar, efisien, dan efektif berkat adanya interaksi yang positif, konstruktif, dan produktif antara berbagai komponen yang terkandung di dalam sistem pengajaran tersebut.
  1. B.     Komponen Peserta Didik (Hamalik,2004)
Peserta didik adalah salah satu komponen dalam pengajaran, di samping faktor pendidik, tujuan, dan metode pengajaran. Sebagai salah satu komponen maka dapat dikatakan bahwa peserta didik adalah komponen yang terpenting diantara kelompok lainnya. Pada dasarnya peserta didik adalah unsur penentu dalam proses belajar mengajar. Tanpa adanya peserta didik, sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajaran. Sebab peserta didiklah yang membutuhkan pengajaran dan bukan pendidik, pendidik hanya berusaha memenuhi kebutuhan yang ada pada peserta didik. Tanpa adanya peserta didik, pendidik tak akan mungkin mengajar. Sehingga peserta didik adalah komponen yang penting dalam hubungan proses belajar mengajar ini.
  1. 1.      Peserta didik adalah pribadi yang kompleks
            J. Looke berpandangan bahwa jiwa anak bagaikan tabu rasa, sebuah meja lilin yang dapat ditulis dengan apa saja bagaimana keinginan si pendidik. J.J.
Rousseau memandang anak sebagai seseorang yang memiliki jiwa yang bersih dan karena lingkungan maka ia jadi kotor.
            Berbeda dengan pandangan di atas maka menurut psikologi modern, anak adalah suatu organisme yang hidup, yang mereaksi, berbuat, dan sebagainya. Organisme yang hidup memiliki suatu kebutuhan, minat, kemampuan, dan masalah-masalah tertentu. Ia bersifat unik, memiliki bakat dan kematangan berkat adanya pengaruh-pengaruh dari luar, sehingga membentuk pribadi anak menjadi kompleks.
  1. 2.      Tujuan mengenal peserta didik
            Pendidik mengenal peserta didik dengan maksud agar pendidik dapat membantu pertumbuhan dan perkembangannya secara efektif. Mengenal dan memahami peserta didik sangat penting agar pendidik dapat menentukan bahan-bahan yang akan diberikan, menggunakan prosedur belajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas kesulitan.
            Banyak aspek dari pribadi peserta didik yang perlu dikenal, namun demi mempermudah studi dalam hal ini maka aspek-aspek tersebut diklasifikasikan sebagai berikut:
  1. Latar belakang masyarakat
Kultur masyarakat dimana peserta didik tinggal, besar pengaruhnya terhadap sikap peserta didik. Latar belakang kultur ini menyebabkan para peserta didik memiliki sikap yang berbeda-beda tentang agama, politik, masyarakat lain, dan cara bertingkah lakunya.
  1. Latar belakang keluarga
Situasi di dalam keluarga, besar pengaruhnya terhadap emosi, penyesuaian sosial, minat, sikap, tujuan, disiplin, dan perbuatan peserta didik di sekolah. Semua masalah apapun yang ada di dalam keluarga akan berpengaruh terhadap sikap, tujuan, dan tingkah laku peserta didik di sekolah. Sehingga pendidik sering mengalami kesulitan untuk memahaminya. Pendidik perlu mengenal situasi dan kondisi dalam keluarga peserta didik, agar dapat merencanakan kegiatan-kegiatan yang serasi.
  1. Tingkat inteligensi
Inteligensi seseorang dipengaruhi oleh perasaan dorongan, rasa aman dan sebagainya. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kematangan daripada IQ. Tingkat inteligensi dapat digunakan untuk memperkirakan keberhasilan seorang peserta didik.
  1. Hasil belajar
Pendidik perlu mengenal hasil belajar dan kemajuan belajar peserta didik yang telah diperoleh sebelumnya. Hal yang perlu diketahui itu ialah penguasaan pelajaran dan keterampilan belajar. Dengan pengenalan tersebut pendidik dapat mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik, dapat memperkirakan hasil dan kemajuan hasil belajar selanjutnya.
  1. Kesehatan badan
Keadaan kesehatan dan pertumbuhan ini besar pengaruhnya terhadap hasil pendidikan dan penyesuaian sosial mereka. Kalau pendidik mengenal data yang lengkap tentang kesehatan dan pertumbuhan jasmaninya maka pendidik dapat memikirkan dan mengusahakan pemberian bantuan kepada mereka seperti: memperbaiki prosedur mengajar, mengatur tempat duduk, memberikan bantuan seperlunya.
  1. Hubungan-hubungan antarpribadi
Hubungan-hubungan pribadi saling aksi dan mereaksi, penerimaan oleh anggota kelompok, kerja sama dengan teman-teman sekelompok akan menentukan perasaan puas dan rasa aman di sekolah. Hal-hal ini sangat berpengaruh pada kelakuan dan motivasi belajarnya. Kalau pendidik mengetahui tentang kebutuhan sosial di kalangan peserta didik maka pendidik dapat menyelidiki masalah-masalah yang dihadapi peserta didik.
  1. Kebutuhan-kebutuhan emosional
Di antara kebutuhan emosional yang penting di kalangan para peserta didik pada umumnya, ialah ingin diterima (acceptance), berteman/ mencintai (affection), dan rasa aman (security). Kebutuhan ini perlu mendapat kepuasan, dan apabila tidak berhasil memberikan kepuasan atas kebutuhan-kebutuhan tersebut maka ia akan menimbulkan frustasi dan gangguan mental lainnya. Dengan mengenal kondisi emosional peserta didik, pendidik dapat memberikan bimbingan yang diperlukan dan berusaha memelihara sifat-sifat pribadi yang baik, guna menjamin stabilitas emosional para peserta didik.
  1. Sifat kepribadian
Pendidik perlu mengenal sifat-sifat kepribadian peserta didik agar pendidik mudah mengadakan pendekatan pribadi dengan mereka. Dengan demikian, hubungan pribadi menjadi lebih dekat dan akan mendorong pengajaran lebih efektif.
  1. Bermacam-macam  minat belajar
Pendidik perlu sekali mengenal minat-minat peserta didiknya, karena ini penting bagi pendidik untuk memilih bahan pelajaran, merencanakan pengalaman-pengalaman belajar, menuntun mereka kearah pengetahuan, dan untuk mendorong motivasi belajar mereka.
  1. 3.      Cara dan alat untuk mengenal peserta didik
Untuk mengenal peserta didik, pendidik dapat menggunakan bermacam-macam alat. Dalam uraian berikut ini dapat kita tinjau alat-alat untuk mengenal peserta didik:
  1. Cumulative record
Sistem cumulative record berisikan banyak macam keterangan tentang peserta didik. Bentuk catatan itu ada bermacam-macam, ada yang menggunakan sistem kartu ukuran 3 X 5 dengan sebanyak 8 pertanyaan, ada juga dengan menggunakan folder (10 X 6) yang di dalamnya terdapat sejumlah kartu dan sejumlah pertanyaan.
  1. Anecdotal records
Anecdotal records ialah catatan tertulis tentang satu atau lebih observasi-observasi pendidik terhadap kelakuan dan reaksi-reaksi peserta didik dalam berbagai situasi. Catatan ini dibuat sekali atau dua kali dalam seminggu selama setahun, catatan ini meliputi keterangan yang diperoleh melalui percakapan informal antara pendidik dan peserta didik.
  1. Percakapan-percakapan dan wawancara informal
Dalam percakapan secara informal dengan peserta didik sebelum masuk sekolah, dalam waktu istirahat dan waktu-waktu lainnya, pendidik dapat mengarahkan pokok pembicaraan untuk mengungkapkan minat, reaksinya terhadap sekolah, pengalaman-pengalaman yang didapat di luar sekolah, motivasi, dan aspirasi mereka. Selain dari itu, pendidik juga mengadakan wawancara secara informal dengan setiap peserta didik guna mengetahui segala sesuatu tentang pribadi peserta didik.
  1. Observasi
Pendidik dapat menggunakan setiap kesempatan yang ada setiap hari untuk mengamati tingkah laku peserta didiknya. Melalui observasi yang terus-menerus, pendidik dapat memperoleh tentang abilitas, sikapnya terhadap kegiatan-kegiatan sekolah, partisipasinya terhadap berbagai kegiatan, hubungan antara peserta didik dalam berbagai kelompok.
  1. Angket
Angket terdiri dari sejumlah pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada peserta didik untuk mendapatkan jawaban yang tertulis. Melalui angket, pendidik dapat mengenal tentang minat, masalah kebutuhan, kecemasan, ambisi anak, dan sebagainya.
  1. Diskusi informal
Para peserta didik mengadakan diskusi secara informal, dan pendidik mendengarkannya. Dalam diskusi ini setiap peserta didik bebas mengemukakan pengalaman-pengalaman dan hal-hal yang telah diamatinya. Diskusi dilaksanakan secara informal penuh persahabatan, saling memberi dan menerima.
  1. Tes
Tes tertulis, baik yang dibuat oleh pendidik maupun tes yang telah disusun oleh para ahli atau lembaga tertentu, pendidik dapat mengetahui tentang hasil pendidikan para peserta didik, tingkat inteligensi, sifat-sifat kepribadian, sikap dan abilitas peserta didik.
  1. Projective techniques
Dengan teknik ini akan menyebabkan peserta didik mengekspresikan atau memproyeksikan minat, keinginan, sikap, dan pendapatnya. Dengan menggunakan alat tersebut pendidik akan memperoleh sejumlah data tentang pribadi peserta didik.
  1. Sosiometri
Tes sosiometri digunakan untuk memperoleh gambaran tentang hubungan antara pribadi peserta didik atau hubungan sosial diantara peserta didik di dalam satu kelas. Hasil dari sosiometri pada sosiologi disebut sosiogram. Sosiogram menunjukkan hubungan antara anggota di dalam suatu kelas/ kelompok, tetapi tidak menjelaskan mengapa terjadi hubungan itu.
  1. Konferensi antara orang tua dan pendidik
Dalam kesempatan mengunjungi orang tua peserta didik dan mengadakan pertemuan dengan orang tua peserta didik tersebut untuk melaporkan kemajuan belajar peserta didik maka pendidik sebaiknya menggunakan kesempatan itu untuk mempelajari situasi keluarganya.
  1. Studi kasus
Dengan studi kasus, pendidik dapat menghimpun banyak informasi tentang seorang peserta didik dari berbagai sumber di dalam satu kesatuan pola. Manfaatnya ialah pendidik dapat memahami peserta didik secara menyeluruh dari individu peserta didik. Dengan demikian, pola perkembangan peserta didik juga dapat diamati secara kontinu.
  1. 4.      Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik
Pendidik yang efektif perlu memahami pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara komprehensif. Pemahaman ini akan memudahkan pendidik untuk menilai kebutuhan peserta didik dan merencanakan tujuan, bahan, prosedur belajar mengajar dengan tepat.
Konsep-konsep dasar tentang perkembangan peserta didik
  1. Pertumbuhan
Pertumbuhan ialah pertumbuhan secara kuantitatif dari substansi atau struktur yang umumnya ditandai dengan perubahan-perubahan biologis pada diri seseorang yang menuju kearah kematangan. Pertumbuhan organisme ini bersumber dari bakat dan pengaruh lingkungan. Pada umumnya peranan bakat lebih menonjol jika dibandingkan dengan peranan pengaruh lingkungan.
  1. Kematangan dan Maturasi
Kematangan adalah tingkat atau keadaan yang harus dicapai dalam proses perkembangan perorangan sebelum ia dapat melakukan sebagaimana mestinya pada bermacam-macam tingkat pertumbuhan mental, fisik, sosial, dan emosional. Kedewasaan (maturation) ialah kemajuan pertumbuhan yang normal kearah kematangan. Proses maturasi disebabkan oleh faktor pertumbuhan dari dalam pada berbagai kapasitas dan struktur.
  1. Perkembangan
Perkembangan menggambarkan perubahan kualitas dan abilitas dalam diri seseorang, yakni adanya perubahan dalam struktur, kapasitas, fungsi, dan efisiensi. Perkembangan itu bersifat keseluruhan, misalnya perkembangan intelektual, emosional, spiritual. Perkembangan umumnya berjalan lambat, karena itu pendidik harus memperhatikan dengan teliti, jangan hanya melihat pertumbuhan fisiknya saja, karena belum tentu sejalan dengan perkembangan dalam segi-segi mental, emosionalnya, dan sebagainya.
  1. Perkembangan Normal
Pengertian perkembangan ini dapat ditinjau dari dua segi. Pertama perkembangan normal dilihat dari segi pola perkembangan individu peserta didik. Perkembangan ini berbeda untuk setiap individu.Kedua perkembangan normal dilihat dari segi usia kronologis. Tingkat usia peserta didik dijadikan dasar untuk menentukan normal atau tidaknya perkembangan seorang peserta didik.
  1. 5.      Prinsip-prinsip pertumbuhan dan perkembangan
Di antara prinsip-prinsip pertumbuhan dan perkembangan yang penting ialah sebagai berikut:
  1. Belajar ialah mengalami.
  2. Belajar menunjukkan adanya perubahan kelakuan dan sikap.
  3. Kesiapan untuk sesuatu tugas belajar ditentukan oleh pertumbuhan peserta didik secara keseluruhan.
  4. Tiap-tiap komponen (sifat) mental, fisik, sosial, emosional perkembangan dengan rute yang berlainan. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri.
  5. Para peserta didik itu bermacam-macam, baik dalam hal perkembangan dalam dirinya maupun dilihat dari norma -norma yang ada.
  6. Setiap peserta didik memiliki keunikan dalam pola perkembangannya.
  7. Seorang peserta didik akan menyerap pengaruh lingkungannya dan demikian ia memperoleh pengalaman dan persiapan.
  8. Proses pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara beruntun menurut pola tertentu.
  9. Pertumbuhan dalam diri seseorang berjalan secara kontinu.
  10. Reaksi-reaksi emosional kerapkali dipengaruhi oleh perkembangan motorik.
  1. 6.      Kebutuhan-kebutuhan peserta didik
Dalam tahap-tahap perkembangan peserta didik, dan satu aspek yang paling menonjol ialah adanya bermacam ragam kebutuhan yang meminta kepuasan. Beberapa ahli telah mengadakan analisis tentang jenis-jenis kebutuhan peserta didik, antara lain:
  1. Prescott, mengadakan klasifikasi kebutuhan sebagai berikut.
1)      Kebutuhan fisiologis : bahan-bahan dan keadaan yang esensial, kegiatan dan istirahat.
2)      Kebututuhan-kebutuhan sosial atau status: menerima dan diterima, dan menyukai orang lain.
3)      Kebutuhan-kebutuhan ego atau integratif: kontak dengan kenyataan, , menambah kematangan diri sendiri, keseimbangan antara berhasil dan gagal, menemukan individualitasnya sendiri.
  1. Maslow menyatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan psikologis akan timbul setelah kebutuhan-kebutuhan psikologis terpenuhi. Ia mengadakan klasifikasi kebutuhan dasar sebagai berikut:
1)      Kebutuhan akan keselamatan
2)      Kebutuhan memiliki dan mencintai
3)      Kebutuhan akan penghargaan
4)      Kebutuhan untuk menonjolkan diri
  1. C.    Komponen Pendidik (Slameto, 2010)
Sebelum memulai tugasnya, pendidik harus terlebih dahulu mempelajari  kurikulum sekolah itu dan memahami program pendidikan yang sedang dilaksanakan. Setiap akan mengajar, pendidik perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Karena itu harus memahami benar tentang tujuan pengajaran, cara merumuskan tujuan mengajar, secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, memahami bahan pelajaran sebaik mungkin dengan menggunakan berbagai sumber, cara memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes dan menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evaluasi lainnya.
Dengan melaksanakan tugasnya, ia perlu mengadakan kerja sama dengan orang tua peserta didik, dengan badan-badan kemasyarakatan dan sekali-sekali membawa peserta didik mengunjungi objek-objek yang kiranya perlu diketahui peserta didik.
  1. 1.      Peranan pendidik
            Pandangan modern seperti yang dikemukakan oleh Adams dan Dickey bahwa peran pendidik sesungguhnya sangat luas, meliputi:
  1. Pendidik sebagai pengajar
Pendidik bertugas memberikan pengajaran di dalam kelas. Ia menyampaikan pelajaran agar peserta didik memahami dengan baik semua pengetahuan yang telah disampaikan itu. Selain itu ia juga berusaha agar terjadi perubahan sikap, keterampilan, kebiasaan, hubungan sosial, apresiasi, dan sebagainya melalui pengajaran yang diberikannya.
  1. Pendidik sebagai pembimbing
Pendidik berkewajiban memberikan bantuan kepada peserta didik agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mengenal dirinya sendiri, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendidik perlu memahami dengan baik tentang teknik bimbingan kelompok, penyuluhan individual, teknik mengumpulkan keterangan, teknik evaluasi, statistik penelitian, psikologi kepribadian, dan psikologi belajar.
  1. Pendidik sebagai pemimpin
Pendidik berkewajiban mengadakan supervisi atas kegiatan belajar peserta didik, membuat rencana pengajaran bagi kelasnya, mengadakan manajemen belajar sebaik-baiknya, melakukan manajemen kelas, mengatur disiplin kelas secara demokratis. Pendidik harus punya jiwa kepemimpinan yang baik, seperti hubungan sosial, kemampuan berkomunikasi, ketenagaan, ketabahan, humor, tegas, dan bijaksana.
  1. Pendidik sebagai ilmuwan
Pendidik dipandang sebagai orang yang berpengetahuan. Dia bukan saja berkewajiban menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya kepada peserta didik, tetapi juga berkewajiban mengembangkan pengetahuan itu dan terus-menerus memupuk pengetahuan yang telah dimilikinya.
  1. Pendidik sebagai pribadi
Sebagai pribadi setiap pendidik harus memiliki sifat-sifat yang disenangi oleh peserta didiknya, oleh orang tua, dan oleh masyarakat. Sifat-sifat itu sangat diperlukan agar ia dapat melaksanakan pengajaran secara efektif.
  1. Pendidik sebagai penghubung
Sekolah berdiri diantara dua lapangan, yakni satu pihak mengemban tugas menyampaikan dan mewariskan ilmu, teknologi, dan kebudayaan yang terus menerus berkembang dengan lajunya, dan di pihak lain bertugas menampung aspirasi, masalah, kebutuhan, minat, dan tuntutan masyarakat. Di antara kedua lapangan inilah pendidik memegang peranannya sebagai pelaksana.
  1. Pendidik sebagai pembaharu
Pendidik memegang peranan sebagai pembaharu, oleh karena melalui kegiatan pendidik penyampaian ilmu dan teknologi, contoh-contoh yang baik dan lain-lain maka akan menanamkan jiwa pembaruan di kalangan peserta didik.
  1. Pendidik sebagai pembangunan
Sekolah turut serta memperbaiki masyarakat dengan jalan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan dengan  turut melakukan kegiatan-kegiatan pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh masyarakat itu. Pendidik baik secara pribadi dan professional dapat menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk membantu berhasilnya rencana pembangunan masyarakat. Partisipasinya di dalam masyarakat akan turut mendorong masyarakat lebih bergairah untuk membangun.
  1. 2.      Tanggung Jawab Pendidik
  2. Pendidik harus membantu peserta didik belajar
Tanggung jawab pendidik yang terpenting ialah merencanakan dan membantu peserta didik  melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Pendidik harus membimbing peserta didik agar mereka memperoleh keterampilan-keterampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan, kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan perkembangan sikap yang serasi.
  1. Turut serta membina kurikulum sekolah
Sesungguhnya pendidik merupakan seorang key person yang paling mengetahui tentang kebutuhan kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Karena itu, sewajarnya apabila dia turut aktif dalam pembinaan kurikulum di sekolahnya. Akan lebih baik pula apabila pendidik melakukan langkah-langkah tertentu dalam penilaian terhadap buku-buku pelajaran yang sedang digunakan.
  1. Melakukan pembinaan terhadap diri peserta didik (kepribadian, watak dan jasmaniah)
Mengembangkan watak dan kepribadian peserta didik sehingga mereka memiliki kebiasaan, sikap, cita-cita, berpikir dan berbuat, berani dan bertanggungjawab, ramah dan mau bekerja sama, bertindak atas dasar nilai-nilai moral yang tinggi, semuanya menjadi tanggung jawab pendidik agar aspek-aspek kepribadian ini dapat berkembang maka pendidik perlu menyediakan kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami, menghayati situasi-situasi yang hidup dan nyata. Selain itu, kepribadian, watak, dan tingkah laku pendidik sendiri akan menjadi contoh konkret bagi peserta didik.
  1. Memberikan bimbingan kepada peserta didik
Bimbingan kepada peserta didik agar mereka mampu mengenal dirinya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mampu menghadapi kenyataan dan memiliki stamina emosional yang baik, sangat diperlukan. Mereka perlu dibimbing kearah terciptanya hubungan pribadi yang baik dengan temannya dimana perbuatan dan perkataan pendidik dapat menjad contoh yang hidup. Karena itu pendidik harus memahami benar tentang masalah bimbingan belajar, bimbingan pendidikan, bimbingan pribadi, dan terampil dalam memberikan penyuluhan yang tepat.
  1. Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar
Pendidik bertanggung jawab menyesuaikan semua situasi belajar dengan minat, latar belakang, dan kematangan peserta didik. Juga bertanggung jawab mengadakan evaluasi terhadap hasil belajar dan kemajuan belajar serta melakukan diagnosis dengan cermat terhadap kesulitan dan kebutuhan peserta didik.
  1. Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif
Pendidik tak mungkin melaksanakan pekerjaannya secara efektif, jika ia tidak mengenal masyarakat seutuhnya dan secara lengkap. Harus dipahami dengan baik tentang pola kehidupan, kebudayaan, minat dan kebutuhan masyarakat, karena perkembangan sikap, minat, aspirasi anak sangat banyak dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya. Ini berarti bahwa dengan mengenal masyarakat, pendidik dapat mengenal peserta didik dan menyesuaikan pelajarannya secara efektif. Pendidik sebaiknya turut aktif dalam kegiatan-kegiatan yang ada dalam masyarakat. Apabila hal ini dikerjakan maka pendidik akan mendapat peluang yang baik untuk menjelaskan tentang keadaan sekolah kepada masyarakat itu, sehingga mendorong masyarakat untuk turut memikirkan kemajuan pendidikan anak-anak mereka.
  1. Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamaian dunia
Pendidik bertanggung jawab untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang baik, yang memiliki rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa. Perasaan demikian dapat tercipta apabila para peserta didik didik saling menghargai, mengenal daerah, masyarakat, adat istiadat, seni budaya, sikap, hubungan-hubungan sosial, keyakinan, kepercayaan dan peninggalan-peninggalan historis setempat, keinginan, dan minat daerah-daerah lainnya di seluruh Nusantara. Dengan pengenalan, pemahaman yang cermat maka akan tumbuh rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
  1. Turut menyukseskan pembangunan
Pembangunan adalah cara yang paling tepat guna membawa masyarakat ke arah kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Pembangunan itu meliputi pembangunan dalam bidang mental spiritual dan bidang fisik materiil. Turut serta dalam kegiatan-kegiatan pembangunan yang sedang berlangsung di dalam masyarakat termasuk tanggung jawab pendidik yang efektif.
  1. Tanggung jawab meningkatkan peranan profesional pendidik
Tanpa adanya kecakapan yang maksimal yang dimiliki oleh pendidik, maka kiranya sulit bagi pendidik tersebut mengemban dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan cara yang sebaik-baiknya. Peningkatan kemampuan itu meliputi kemampuan untuk melaksanakan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas di dalam sekolah dan kemampuan yang diperlukan untuk merealisasikan tanggung jawabnya di luar sekolah. Kemampuan itu harus dipupuk dalam diri pribadi pendidik sejak ia mengikuti pendidikan pendidik sampai ia bekerja.
  1. 3.      Tuntutan Pendidik
            Pendidik yang dapat berperan sebagai pembimbing yang tidak menimbulkan pertentangan:
  1. Mengajar mata pelajaran, yaitu pendidik yang :
1)      Dapat menimbulkan minat dan semangat belajar peserta didik melalui mata pelajaran yang diajarkannya
2)      Memiliki kecakapan untuk memimpin
3)      Dapat menghubungkan materi pelajaran dengan contoh-contoh  praktis.
  1. Hubungan peserta didik dengan pendidik yaitu pendidik yang:
1)      Dicari oleh peserta didik untuk memperoleh nasihat dan bantuan
2)      Mencari kontak denga peserta didik di luar kelas
3)      Memiliki minat dalam pelayanan sosial
4)      Membuat kontak dengan orang tua peserta didik
  1. Hubungan pendidik dengan pendidik, yaitu pendidik yang:
1)      Menunjukkan kecakapan bekerja sama dengan pendidik lain
2)      Tidak menimbulkan pertentangan
3)      Menunjukkan kecakapan untuk berdiri sendiri
4)      Menunjukkan kepemimpinan yang baik dan tidak mementingkan diri sendiri
  1. Pencatatan dan penelitian, yaitu pendidik yang:
1)      Mempunyai sikap ilmiah objektif
2)      Lebih suka mengukur dan tidak menebak
3)      Berminat dalam masalah-masalah penelitian
4)      Efisien dalam pekerjaan-pekerjaan tulis-menulis
5)      Melihat kesempatan untuk penelitian dalam kegiatan tulis menulis
  1. Sikap professional, yaitu pendidik yang:
1)      Sukarela untuk melakukan pekerjaan ekstra
2)      Telah menunjukkan dapat menyesuaikan diri dan sabar
3)      Memiliki sikap yang konstruktif dan rasa tanggung jawab
4)      Berkemauan untuk melatih diri
5)      Memiliki semangat untuk memberikan layanan kepada peserta didik, sekolah dan masyarakat
  1. D.    Komponen Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogamkan tanpa tujuan, karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah mana kegiatan itu akan dibawa. Sebagai unsur penting untuk suatu kegiatan, maka dalam kegiatan apapun tujuan tidak bisa diabaikan. Demikian juga halnya dalam kegiatan belajar mengajar, tujuan adalah suatu cita-cita yang dicapai dalam kegiatannya. Tujuan merupakan komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti: bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber dan evaluasi. Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Bila salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Tujuan memiliki nilai yang sangat penting di dalam pengajaran. Bahkan barangkali dapat dikatakan bahwa tujuan merupakan faktor yang terpenting dalam kegiatan dan proses belajar mengajar. Nilai-nilai tujuan dalam pengajaran diantaranya adalah sebagai berikut (Dimyati,dkk, 2009):
  1. Tujuan pendidikan mengarahkan dan membimbing kegiatan pendidik dan peserta didik dalam proses pengajaran;
  2. Tujuan pendidikan memberikan motivasi kepada pendidik dan peserta didik;
  3. Tujuan pendidikan memberikan pedoman dan petunjuk kepada pendidik dalam rangka memilih dan menentukan metode mengajar atau menyediakan lingkungan belajar bagi peserta didik;
  4. Tujuan pendidikan penting maknanya dalam rangka memilih dan menentukan alat peraga pendidikan yang akan digunakan; dan
  5. Tujuan pendidikan penting dalam menentukan alat/ teknik penilaian pendidik terhadap hasil beajar peserta didik.
Ada bermacam-macam tujuan pendidikan menurut M. J. Langeveld (Siswoyo, 2007: 26), yaitu:
  1. Tujuan umum
Tujuan umum adalah tujuan paling akhir dan merupakan keseluruhan/ kebulatan tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan. Bagi Langeveld tujuan umum atau tujuan akhir, akhirnya adalah kedewasaan, yang salah asatu cirinya adalah tetap hidup dengan pribadi mandiri. Dan menurut Hoogveld (Soekarlan, 1969: 29) mendidik itu berarti membantu manusia agar mampu menunaikan tugas hidupnya secara berdiri sendiri.
  1. Tujuan khusus
Tujuan khusus adalah pengkhususan tujuan umum atas dasar berbagai hal. Misalnya usia, jenis kelamin, intelegensi, bakat, minat, lingkungan sosial budaya, tahap-tahap perkembangan, tuntutan persyaratan pekerjaan dan sebagainya.
  1. Tujuan tak lengkap
Tujuan tak lengkap adalah tujuan yang hanya menyangkut sebagian aspek kehidupan manusia. Misalnya aspek psikologis, biologis, sosiologis saja. Salah satu aspek psikologis misalnya hanya mengembangkan emosi dan pikiran saja.
  1. Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah tujuan yang hanya dimaksudkan untuk sementara saja, sedangkan kalau tujuan sementara itu sudah tercapai maka ditinggalkan dan diganti dengan tujuan yang lain. Misalnya: orang tua ingin agar anaknya berhenti merokok, dengan dikurangi uang sakunya. Kalau sudah tidak merokok, lalu ditingalkan dan diganti dengan tujuan lain misalnya agar tidak suka begadang.
  1. Tujuan intermedier
Tujuan intermedier yaitu tujuan perantara bagi tujuan lainnya yang pokok. Misalnya: anak yang dibiasakan untuk menyapu halaman, maksudnya agar klak ia mempunyai rasa tanggung jawab. Membiasakan mmbagi-bagi tugas pada anak satu dngan lainnya juga berarti melatih tanggung jawab dengan maksud agar kelak mereka memiliki rasa tanggung jawab.
  1. Tujuan insidental
Tujuan insidental yaitu tujuan yang dicapai pada saat-saat tertentu, seketika atau spontan. Misalnya: pendidik menegur anak yang bermain kasar ketika bermain sepak bola. Selain itu, orang tua yang menegur anaknya untuk duduk dengan sopan.
Dalam bukunya, Djamarah (2010: 42) mengatakan bahwa suatu tujuan pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) peserta didik-peserta didik yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengajaran mengatakan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan sekedar suatu proses dari pengajaran itu sendiri. Akhirnya, pendidik tidak bisa mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogamkan pengajaran.
  1. E.     Komponen Bahan/ Materi
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, pendidik yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan bahan  pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang pendidik sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang pendidik agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan penunjang ini biasanya bahan yang terlepas dari disiplin keilmuan pendidik, tetapi dapat digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. Pemakaian bahan pelajaran penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua anak didik.
Bahan pelajaran merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai olek anak didik. Karena itu, pendidik khususnya atau pengembang kurikulum umumnya, tidak boleh lupa harus memikirkan sejauh mana bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabus berkaitan dengan kebutuhan anak didik pada usia tertentu dan dalam lingkungan tertentu pula. Minat anak didik akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai dengan kebutuhan anak didik. Maslow berkeyakinan bahwa minat seseorang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya (Djamarah, 2010: 44). Jadi, bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian, bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan adalah inti dalam proses beajar mengajar yang akan disampaikan kepada anak didik.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembelajaran adalah adanya interaksi. lnteraksi yang terjadi antara si belajar dengan lingkungan belajarnya, baik itu dengan pendidik, teman-temannya, tutor, media pembelajaran, dan atau sumber-sumber belajar yang lain. Sedangkan ciri-ciri lainnya dari pembelajaran ini berkaitan dengan komponen-komponen pembelajaran itu sendiri. Dimana di dalam pembelajaran akan terdapat komponen-komponen sebagai berikut: tujuan pendidikan, peserta didik, pendidik , bahan atau materi pelajaran, pendekatan dan metode, media atau alat, sumber belajar serta, evaluasi. Semua komponen tersebut saling terkait atau berhubungan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Komponen-komponen pembelajaran tersebut sebagai suatu sistem yang utuh dan saling mendukung satu sama lain.
DAFTAR RUJUKAN

Dimyati,dkk. 2009. Belajar dan PembelajaranJakarta: Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Siswoyo, Dwi, dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Press.
Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Soekarlan, Endang. 1969. Pedagogik Umum. Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta.